Kamis, 06 Agustus 2009

sleepOlogy..


Mungkin istilah “sleepOlogy” terdengar aneh, karena memang istilah ini tercetus begitu saja di kepala saya ketika memikirkan judul apa yang tepat jika postingan saya kali ini adalah tentang tidur.
Adakah manusia di dunia ini yang tidak pernah tidur? Saya yakin tidak ada. Karena tidur merupakan proses fungsional tubuh, sekuat apapun anda berusaha untuk terjaga berhari hari dan tidak tidur, percayalah anda pasti kalah. Tidur tidak sesimple memejamkan mata anda. Tidur merupakan peristiwa yang sangat kompleks karena tidur mencakup perubahan seluruh sistem tubuh. Mulai dari kerja otak hingga tekanan darah dan sistem hormon, semuanya berbeda saat anda bangun dan saat anda tidur. Bahkan sampai saat ini tidur masih menyimpan banyak misteri yang belum dapat dipecahkan.
Menurut buku fisiologi Guyton tidur merupakan keadaan tidak sadar (uncounsiousness) dimana dapat dipulihkan (disadarkan kembali) dengan sensori (e.g dicubit,diteriakin deket kupingnya, digoncang goncang dsb yang berhubungan dengan sentuhan fisik) atau stimulus lain. Tidur berbeda dengan koma, karena koma tidak dapat dipulihkan dengan stimulus dan rangsang sensorik. tidur terdiri dari beberapa tahap.
Dua tipe tidur yaitu:
Slow Wave Sleep.
Merupakan tidur pada 1 jam pertama. Slow Wave Sleep sering juga disebut sebagai tidur dalam, hal ini diasosiasikan dengan menurunnya tonus vaskular dan fungsi vegetatif tubuh ( tekanan darah,
respiratory rate, dan basal metabolik rate menurun). Pada tahap ini biasanya tidak terjadi mimpi, namun beberapa penelitian membuktikan jika dalam fase tidur dalam terjadi mimpi maka saat orang tersebut bangun ia tidak akan ingat akan mimpi tersebut. Hal ini diduga pada saat bermimpi tidak terjadi konslolidasi dengan memori pada korteks serebri.
Paradoksikal Sleep/ Rapid Eye Movement Sleep ( REM ).
Tidur REM akan muncul di sela sela tidur malam. biasanya REM muncul tiap 90 menit dan berlangsung selama 5-30 menit. Pada orang yang sangat mengantuk frekuensi kemunculan REM menurun bahkan bisa jadi tidak ada REM. Namun semakin lama tidur seseorang semakin meningkat frekuensi REMnya.
Beberapa karakteristik REM adalah:
- Adanya mimpi dan gerakan aktiv otot saat tidur.
- Sulit untuk dipulihkan ( dibangunkan ) dengan rangsang sensorik dan stimulus lain jika dibandingkan dengan tidur Slow wave.
- Tonus otot di seluruh tubuh terhambat sebab terjadi inhibisi pada daerah spinal.
- Heart rate dan Respiratory Rate ( denyut jantung dan nafas per menit) menjadi tidak teratur (hal ini merupakan ciri khas seorang yang mimpi).
- Munculnya gerakan otot yang tidak teratur dan gerakan mata yang cepat.
- Otak menjadi sangat aktif, metabolisme otak meningkat sekitar 30% dan dalam pencatatan EEG pola gelombang otak mirip dengan keadaan bangun.
Atas alasan inilah maka REM disebut juga sebagai tidur paradoksikal sebab orang tidur namun aktivitas otaknya mirip dengan orang bangun.
Pusat- Pusat Pengatur Tidur.
Stimulasi pada bagian otak tertentu dapat menyebabkan seseorang tidur. Diantara bagian bagian otak tersebut adalah :
Sebuah area bernama nukleus raphei pada bagian bawah pons di medulla diduga merupakan penyebab tidur. Serat neuron dari nukleus raphei ini menyebar pada batang otak, formasio retikularis dan juga ke atas ke talamus, hipotalamus dan ke sistem limbik bahkan mencapai neokorteks cerebrum. Ujung ujung neuron dari nukleus raphei ini mengeluarkan serotonin, serotonin merupakan substansi penyebab tidur. Pada penelitian, diberikan obat yang memblok kerja serotonin pada hewan hasilnya hewan tersebut tidak dapat tidur.
Sebuah nukleus pada traktus solitarius juga diduga menyebabkan tidur.
Beberapa area di diencepalon juga diduga pusat tidur.
Siklus Bangun-Tidur
Jadi saat pusat2 tidur di otak ( yg ada 3 itu lho) tidak teraktivasi maka mesenchepalon dan uuper pontile dan retikular aktivating sistem(disebut juga RAS)( pusat2 bangun) akan terktivasi. Hal ini lalu menyebabkan korteks serebri dan nervus perifer teraktivasi dan mengeluarkan umpan balik positif pada RAS. Setelah berjam-jam aktif, neuron2 tsb menjadi capek. Sehingga umpan balik positif melemah dan pusat2 tidur mengambil alih kontrol. Sehingga dengan cepat seseorang akan merasa mengantuk dan tertidur.
Fungsi Tidur:
Tidur berguna untuk mengembalikan aktifitas otak yang setelah dipakai berjam jam akan lelah.Kurang tidur akan mempengaruhi fungsi syaraf kita. Begadang cukup lama akan menyebabkan malfungsi yang progresif pada proses berfikir dan menyebabkan perilaku abnormal.
Masih belum puas?? masih kurang?? sabar...
bersambung ke → SleepOlogy episode II :)

Jumat, 19 Juni 2009

Habis makan langsung tidur?? Awas bahaya..


Siapa sih yang tidak mengantuk sehabis makan? Apalagi habis makan malam. Dulu waktu saya masih SD, saya pernah baca komik Doraemon, di situ ceritanya si Tsuneo lagi makan, setelah selesai makan dia langsung tidur padahal udah dibilangin ibunya, “Tsuneo abis makan jangan tidur! Nanti kamu jadi kerbau!” kata ibunya. Eh tsuneonya malah membantah, cuek dia tidur juga. Setelah Dia bangun, begitu kagetnya Tsuneo saat berkaca, karena dia sudah jadi kerbau. He he he

Nah lanjut,, itu kan versi Doraemon, ada versi lain mengatakan kalo habis makan langsung tidur maka kita akan cepat gemuk (kalo yang ini saya mau banget, soalnya saya kurus.. he he he), pendapat kedua ini ada benarnya, karena saat tidur energy yang dihabiskan jauh lebih kecil dibandingkan saat kita terjaga dan duduk sambil membaca misalnya. Tapi saya tidak akan membahas lebih lanjut tentang hal ini karena menurut saya ada yang jauh lebih berbahaya dari pada menjadi gendut jika kita langsung tidur sehabis makan, yaitu resiko terkena Gastroesophageal Reflux Disease ( atau bahasa indonesianya Penyakit Refluks Gastro ESofagus) atau sering disebut GERD. GERD merupakan suatu kondisi dimana makanan yang sudah ada di lambung akan naik lagi ke tenggorokan (refluks). Lambung merupakan bagian terasam di tubuh kita, bagaimana tidak fungsinya kan untuk mencerna makanan, nah kondisi asam ini dibutuhkan agar makanan bisa hancur dan mudah diserap. Kalau substansi asam ini naik ke saluran pencernaan kita ( bahkan sampai ke tenggorokan) bisa anda bayankan apa yang terjadi, asam lambung akan merusak dinding tenggorokan anda. Lalu kenapa lambung tidak rusak? Kalo tenggorokan saja bisa rusak kena asam lambung? Lambung kita punya lapisan pelindung yang dikeluarkan oleh sel sel pelapisnya ( berupa mucus dan ion ion bikarbonat) sedangkan tenggorokan kita tidak dilindungi, jadi substansi apapun yang dapat mengiritasi tanggorokan akan dengan mudah melakukannya.

Sebenarnya esophagus ( kalau tidak salah bahasa awamnya kerongkongan, kalau salah tolong benarkan ya..) punya semacam katup ( sphincter ) yang bisa mencegah makanan yang sudah masuk ke lambung untuk naik lagi, nama katupnya Lower Esophageal Sphincter (LES). Namun katup ini bisa saja tidak berfungsi dengan semestinya, kondisi kondisi yang dapat menyebabkan hal ini terjadi diantaranya adalah konsumsi makanan yang banyak mengandung kafein, karena kafein dapat menurunkan daya kontraksi LES . sehingga makanan di lambung tidak “terkunci” dengan baik.

Lalu.. apa yang terjadi bila saluran pencernaan atas kita teriritasi oleh asam lambung?

Inilah dia gejala gejalanya:
heart burn = nyeri dada, seringkali disangka nyeri jantung ( bahasa medisnya pyrosis): memburuk pada posisi berbaring telentang
dysfagia = sulit menelan : disebabkan oleh obstruksi
hoarsness = suara parau
batuk = terkadang sampai terbangun di tengah malam karena batuk tiba tiba
pneumonia : aspirasi saat tidur, makanan yang naik tadi masuk ke saluran pernafasan sehingga saat tidur bisa batuk tiba tiba.

Tentunya hal ini tidak terjadi dalam satu atau dua malam, oleh karena itu jangan jadikan tidur setelah makan sebagai kebiasaan anda. GERD yang berkepanjangan dapat menyebabkan luka pada esophagus bertambah parah dan menyebabkan kanker esophagus.

Barang siapa yang sudah merasa pernah mengalami gejala tersebut maka perlu menghindari hal hal berikut:
Hindari makan dalam porsi terlalu besar dan mengandung banyak lemak (lemak dapat menginduksi relaksasi LES, sehingga LES tidak dapat kontrasi maksimal).
Menghindari makan dalam 3-4 jam menjelang tidur.
Menghindari merokok alcohol dan minuman berkafein tinggi karena bisa menginduksi relaksasi LES.
Tetap dalam posisi tegak setelah makan dan jangan berbaring langsung setelah makan.
Menghindari memakai pakaian yang terlalu ketat dan dapat menekan abdomen setelah makan.
Mengonsumsi makanan dengan nutrisi lengkap dan mengandung serat.
Menghindari makanan bercitarasa asam dan pedas saat pyrosis timbul.
Mengurangi berat badan jika overweight.

Sukurilah keadaan anda saat ini karena belum tentu besok semua organ tubuh anda dapat berfungsi sebaik hari ini.